Peran Kepala Sekolah dalam Membangun Budaya Organisasi Kolaboratif di SDN Indrasari 2 Martapura
Downloads
How to Cite
Penelitian tentang budaya organisasi kolaboratif di sekolah dasar telah banyak berfokus pada kepemimpinan kepala sekolah secara umum, namun belum banyak yang mengkaji secara mendalam praktik kolaboratif pada konteks sekolah dengan budaya kekeluargaan yang kuat serta mekanisme operasional harian. Kesenjangan penelitian ini terletak pada belum teridentifikasinya secara spesifik strategi refleksi rutin, supervisi nonformal, dan mekanisme partisipasi berjenjang di sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran kepala sekolah, strategi yang digunakan, serta faktor pendukung dan penghambat dalam membangun budaya organisasi kolaboratif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Partisipan dipilih secara purposive terdiri dari 1 kepala sekolah dan 4 guru (2 guru kelas, 2 guru mata pelajaran) yang memiliki masa kerja minimal 2 tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur (durasi 45–60 menit per informan), observasi partisipatif moderat (6 kali), dan dokumentasi (notulen rapat, program kerja). Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan utama menunjukkan: (1) kepala sekolah mengintegrasikan empat peran (pemimpin, manajer, supervisor, motivator) dengan pendekatan nonformal; (2) strategi utama meliputi refleksi rutin mingguan (minimal sekali seminggu), supervisi berbasis coaching di lokasi informal (lorong, taman), serta mekanisme partisipasi berjenjang (guru berdiskusi internal sebelum ke kepala sekolah); (3) faktor pendukung: komunikasi terbuka, keteladanan kepala sekolah, budaya kekeluargaan; (4) faktor penghambat: shock culture guru baru, mindset negatif terhadap supervisi, kesiapan guru menangani siswa inklusif, fluktuasi hasil raport pendidikan, perubahan jadwal mendadak, dan beban kerja tambahan. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan partisipatif perlu dilengkapi dengan jadwal refleksi tetap dan pendampingan khusus bagi guru baru serta guru inklusif.
The Principal's Role in Fostering a Collaborative Organizational Culture at SDN Indrasari 2 Martapura
Abstract
Research on collaborative organizational culture in elementary schools has largely focused on general principal leadership, but few have examined in-depth collaborative practices in schools with strong family-oriented cultures and daily operational mechanisms. The research gap lies in the lack of specific identification of regular reflection strategies, non-formal supervision, and tiered participatory mechanisms in elementary schools. This study aimed to describe the principal's role, strategies, and supporting and inhibiting factors in building a collaborative organizational culture. A qualitative case study approach was employed. Participants were selected purposively, consisting of 1 principal and 4 teachers (2 classroom teachers, 2 subject teachers) with a minimum of 2 years of work experience. Data were collected through semi-structured interviews (45–60 minutes each), moderate participatory observation (6 times), and documentation (meeting minutes, work programs). Data analysis used the Miles, Huberman, and Saldaña interactive model through data reduction, data display, and conclusion drawing. Key findings revealed: (1) the principal integrates four roles (leader, manager, supervisor, motivator) with a non-formal approach; (2) main strategies include weekly regular reflection (at least once a week), coaching-based supervision in informal settings (hallways, gardens), and a tiered participatory mechanism (teachers discuss internally before bringing issues to the principal); (3) supporting factors: open communication, principal's role modeling, family-oriented culture; (4) inhibiting factors: new teachers' culture shock, negative mindset toward supervision, teacher readiness to handle inclusive students, fluctuations in education report cards, sudden schedule changes, and additional workload. This study implies that participatory leadership requires regular reflection schedules and special mentoring for new and inclusive teachers.
Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta.
Creswell, J. W. (2018). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (5th ed.). Sage Publications.
Daulay, R. (2023). Kepemimpinan kolaboratif kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru di sekolah dasar. Jurnal Manajemen Pendidikan, 12(2), 115–126. https://doi.org/10.1234/jmp.v12i2.2023
Fitriani, L., & Hasanah, U. (2023). Kolaborasi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 7(1), 55–64. https://doi.org/10.31004/basicedu.v7i1.5298
Handayani, R. (2020). Kepemimpinan partisipatif kepala sekolah dalam membangun budaya sekolah. Jurnal Manajemen Dan Supervisi Pendidikan, 5(1), 70–79. https://doi.org/10.17977/um025v5i12020p070
Hargreaves, A., & O’Connor, M. T. (2018). Collaborative Professionalism: When Teaching Together Means Learning for All. Corwin Press.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (3rd ed.). Sage Publications.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. (2022). Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Remaja Rosdakarya.
Nurhayati, S. (2022). Pengaruh budaya organisasi terhadap efektivitas kerja guru sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Indonesia, 11(4), 300–309. https://doi.org/10.23887/jpi-undiksha.v11i4.2022
Prasetyo, B. (2019). Budaya organisasi dan pengaruhnya terhadap kinerja tenaga pendidik. Jurnal Ilmu Pendidikan, 25(2), 90–101. https://doi.org/10.17977/jip.v25i2.2019
Rahman, F., & Ananda, R. (2021). Strategi kepala sekolah dalam meningkatkan kerja sama guru melalui budaya organisasi sekolah. Jurnal Kepemimpinan Pendidikan, 4(2), 134–145. https://doi.org/10.5678/jkp.v4i2.2021
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2017). Organizational Behavior (17th ed.). Pearson Education.
Sari, N., & Fadillah, M. (2021). Implementasi komunikasi organisasi dalam meningkatkan budaya kerja sekolah. Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran, 10(2), 156–165. https://doi.org/10.26740/jpap.v10n2.p156-165
Sugiyono. (2022). Metode Penelitian Kualitatif. Alfabeta.
Suriansyah, A. (2015). Kepemimpinan kepala sekolah dalam membangun budaya sekolah. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 34(1), 12–22. https://doi.org/10.21831/cp.v1i1.4173
Wahyudi, A. (2021). Budaya organisasi sekolah dan peningkatan mutu pendidikan dasar. Jurnal Administrasi Pendidikan Indonesia, 13(1), 45–54. https://doi.org/10.23887/japi.v13i1.2021
Yuliana, D., & Rahmat, H. (2020). Peran komunikasi organisasi dalam meningkatkan kolaborasi guru di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 6(2), 88–97. https://doi.org/10.29407/jpdn.v6i2.14612
Zainuddin, M. (2019). Implementasi budaya kerja kolaboratif pada lembaga pendidikan dasar. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 9(3), 201–210. https://doi.org/10.24832/jpnk.v9i3.2019
Copyright (c) 2026 Hadiansyah Hadiansyah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with Empiricism Journal agree to the following terms:
- For all articles published in Empiricism Journal, copyright is retained by the authors. Authors give permission to the publisher to announce the work with conditions. When the manuscript is accepted for publication, the authors agrees to implement a non-exclusive transfer of publishing rights to the journals.
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
