Manajemen Konflik Organisasi Sekolah dalam Implementasi Program Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin

Manajemen Konflik Program Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) Sekolah Dasar

Authors

Downloads

How to Cite

Wijaya, A. O., Kardina, T., Sari, A. M., Murhartoyo, M., Ilmi, Z., Suriansyah, A., & Purwanti, R. (2026). Manajemen Konflik Organisasi Sekolah dalam Implementasi Program Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin. Empiricism Journal, 7(2), 1757-1768. https://doi.org/10.36312/ej.v7i2.5415

Program Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) bertujuan meningkatkan keamanan, mutu, dan kualitas pangan yang dikonsumsi peserta didik di lingkungan sekolah. Kajian PJAS umumnya menyoroti keamanan pangan, perilaku konsumsi siswa, dan kantin sehat, sedangkan manajemen konflik dalam implementasinya masih jarang dikaji. Padahal, pelaksanaan PJAS melibatkan berbagai pihak dengan kepentingan berbeda sehingga berpotensi menimbulkan konflik yang memengaruhi keberhasilan program. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk konflik, strategi manajemen konflik, dan dampaknya terhadap pelaksanaan PJAS di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, dua guru anggota Tim PJAS, dan satu pengelola kantin yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya konflik kepentingan antara sekolah dan pengelola kantin terkait jajanan sehat, perubahan kebiasaan konsumsi siswa, serta implementasi kebijakan kantin sehat. Strategi yang diterapkan meliputi komunikasi persuasif, dialog, musyawarah, pembinaan pengelola kantin, kolaborasi antarwarga sekolah, dan penyesuaian kebijakan secara bertahap. Pengelolaan konflik berdampak pada meningkatnya kesadaran jajanan sehat, terbentuknya Tim Keamanan Pangan Sekolah (TKPS), tersusunnya tata tertib kantin, membaiknya kebersihan kantin, serta meningkatnya partisipasi warga sekolah. Temuan ini menegaskan bahwa manajemen konflik komunikatif dan kolaboratif berperan penting dalam mendukung keberhasilan PJAS. Dengan demikian, konflik tidak hanya dipandang sebagai hambatan, tetapi juga peluang untuk memperkuat tata kelola program secara berkelanjutan di sekolah dasar.

School Organizational Conflict Management in the Implementation of the School Children's Snack Food Program (PJAS) at SDN Pelambuan 4 Banjarmasin

Abstract

The School Children’s Snack Food Program (PJAS) aims to improve the safety, standards, and quality of food consumed by students within the school environment. Studies on PJAS have generally focused on food safety, students’ consumption behavior, and the development of healthy canteens, while conflict management in program implementation remains relatively underexplored. In fact, the implementation of PJAS involves various stakeholders with different interests, thereby creating the potential for conflicts that may affect the success of the program. This study aims to analyze the forms of conflict, conflict management strategies, and their impacts on the implementation of PJAS at SDN Pelambuan 4 Banjarmasin. This research employed a qualitative approach with a case study design. The research subjects consisted of one principal, two teachers who were members of the PJAS Team, and one canteen manager, selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, and were analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña model, which includes data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings revealed several conflicts, including conflicts of interest between the school and the canteen manager regarding the provision of healthy snacks, changes in students’ consumption habits, and the implementation of healthy canteen policies. The strategies applied included persuasive communication, dialogue, deliberation, guidance for the canteen manager, collaboration among school members, and gradual policy adjustment. Conflict management contributed to increased awareness of healthy snacks, the establishment of the School Food Safety Team (TKPS), the formulation of canteen regulations, improved canteen hygiene, and increased participation among school members. These findings emphasize that communicative and collaborative conflict management plays an important role in supporting the successful implementation of PJAS. Thus, conflict should not only be viewed as an obstacle but also as an opportunity to strengthen sustainable program governance in elementary schools.