Determinasi Sosial Ekonomi Terhadap Rendahnya Minat Melanjutkan Pendidikan di Desa Sukaraja Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur

Minat Melanjutkan Pendidikan Faktor Internal dan Eksternal Masyarakat Agraris Desa Sukaraja

Authors

Downloads

How to Cite

Nisa, K., Rispawati, R., & Sartika, L. D. (2026). Determinasi Sosial Ekonomi Terhadap Rendahnya Minat Melanjutkan Pendidikan di Desa Sukaraja Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur. Empiricism Journal, 7(2), 1637-1654. https://doi.org/10.36312/ej.v7i2.5489

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya minat melanjutkan pendidikan di Desa Sukaraja, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, serta mengkaji peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membentuk minat siswa untuk melanjutkan pendidikan. Data Profil Desa Sukaraja Tahun 2023 menunjukkan bahwa dari 52 lulusan SMP, hanya 28 siswa atau sekitar 54% yang melanjutkan ke jenjang SMA/SMK. Sebagian lainnya memilih terlibat dalam aktivitas ekonomi keluarga atau menikah pada usia muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi. Informan terdiri atas siswa lulusan SMP yang tidak melanjutkan pendidikan, orang tua atau wali siswa, guru SMP, dan tokoh masyarakat yang dipilih secara purposive hingga mencapai kejenuhan data. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya minat melanjutkan pendidikan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang saling berkaitan. Faktor internal meliputi rendahnya motivasi belajar, lemahnya orientasi masa depan, dan persepsi pragmatis terhadap manfaat pendidikan. Faktor eksternal meliputi keterbatasan ekonomi keluarga, dukungan orang tua yang belum optimal, pengalaman sekolah yang kurang mendukung, pengaruh teman sebaya, budaya kerja dini, dan praktik pernikahan usia muda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa persoalan tersebut bersifat multidimensional dan memerlukan kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat.

Low Interest in Continuing Education in Sukaraja Village, Jerowaru District, East Lombok Regency

Abstract

This study aims to analyze the factors influencing the low interest in continuing education in Sukaraja Village, Jerowaru District, East Lombok Regency, and to examine the roles of family, school, and community in shaping students’ interest in pursuing further education. The 2023 Sukaraja Village Profile shows that, out of 52 junior high school graduates, only 28 students, or approximately 54%, continued to senior high school or vocational high school. The remaining graduates chose to engage in family economic activities or entered early marriage. This study employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and document analysis. The informants consisted of junior high school graduates who did not continue their education, parents or guardians, junior high school teachers, and community leaders, selected purposively until data saturation was reached. Data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, consisting of data reduction, data display, conclusion drawing, and verification. Data trustworthiness was ensured through source and technique triangulation. The findings reveal that the low interest in continuing education is influenced by interrelated internal and external factors. Internal factors include low learning motivation, weak future orientation, and pragmatic perceptions of the benefits of education. External factors include family economic constraints, limited parental support, unsupportive school experiences, peer influence, early work culture, and early marriage practices. This study concludes that the issue is multidimensional and requires collaboration among families, schools, village government, and the community.