Integrasi Kearifan Lokal Tradisi Perang Topat dalam Inovasi Pembelajaran IPA Berbasis Ekowisata

etnosains ekowisata Problem Based Learning

Authors

Downloads

How to Cite

Haerani , G. ., Pratiwi, N. A. ., Lestari, S. D. ., & Hidayatin , S. . (2026). Integrasi Kearifan Lokal Tradisi Perang Topat dalam Inovasi Pembelajaran IPA Berbasis Ekowisata. Empiricism Journal, 7(2), 1274-1283. https://doi.org/10.36312/ej.v7i2.5607

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kontekstualitas pembelajaran IPA di sekolah serta belum optimalnya pemanfaatan kearifan lokal sebagai sumber belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk merekonstruksi pengetahuan lokal dalam tradisi Perang Topat di kawasan Pura Lingsar, Lombok, ke dalam konsep-konsep ilmiah IPA serta mengintegrasikannya ke dalam inovasi pembelajaran berbasis ekowisata. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif etnosains. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur dengan tokoh adat dan pemandu lokal, serta dokumentasi di kawasan Pura Lingsar dan Kemaliq Lingsar. Teknik analisis data menggunakan model Miles & Huberman (reduksi, penyajian, penarikan kesimpulan) yang divalidasi melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Perang Topat mengandung enam konsep ilmiah utama, yaitu: (1) jaringan xilem, floem, dan lignin pada daun kelapa (Biologi, kelas XI); (2) gelatinisasi dan retrogradasi pati (Kimia, kelas XI–XII); (3) gerak parabola (Fisika, kelas XI); (4) hukum III Newton dan impuls-momentum (Fisika, kelas XI); (5) dekomposisi bahan organik dan kimia hijau (Kimia, kelas X); serta (6) polimer alami (Kimia, kelas XII). Berdasarkan temuan tersebut, dikembangkan model Problem Based Learning (PBL) dengan contoh masalah kontekstual yang disesuaikan pada setiap mata pelajaran. Simpulan penelitian ini adalah tradisi Perang Topat memiliki potensi besar sebagai sumber belajar IPA berbasis kearifan lokal dan ekowisata yang dapat meningkatkan literasi sains, berpikir kritis, serta kesadaran lingkungan peserta didik. Rekomendasi penelitian ditujukan bagi guru, sekolah, pemerintah daerah, dan peneliti selanjutnya untuk mengimplementasikan dan menguji efektivitas model pembelajaran berbasis etnosains ini secara lebih luas.

 

Integration of Local Wisdom of the Topat War Tradition in Ecotourism-Based Science Learning Innovation

Abstract

This research is motivated by the lack of contextualization in science learning in schools and the suboptimal utilization of local wisdom as a learning resource. The aim of this study is to reconstruct the local knowledge embedded in the Perang Topat tradition in the Pura Lingsar area, Lombok, into scientific science concepts and integrate them into ecotourism-based science learning innovation. A qualitative approach with a descriptive ethnoscience design was employed. Data were collected through participatory observation, semi-structured interviews with traditional elders and local guides, and documentation in the Pura Lingsar and Kemaliq Lingsar areas. Data analysis followed the Miles & Huberman model (reduction, display, conclusion drawing) validated by source and method triangulation. The results revealed that the Perang Topat tradition contains six main scientific concepts: (1) xylem, phloem, and lignin tissues in coconut leaves (Biology, grade XI); (2) starch gelatinization and retrogradation (Chemistry, grades XI–XII); (3) projectile motion (Physics, grade XI); (4) Newton’s Third Law and impulse-momentum (Physics, grade XI); (5) organic matter decomposition and green chemistry (Chemistry, grade X); and (6) natural polymers (Chemistry, grade XII). Based on these findings, a Problem Based Learning (PBL) model was developed with contextual problem examples tailored to each subject. This study concludes that the Perang Topat tradition holds great potential as a source of local wisdom-based and ecotourism-based science learning that can enhance students’ scientific literacy, critical thinking, and environmental awareness. Recommendations are addressed to teachers, schools, local governments, and further researchers to implement and test the effectiveness of this ethnoscience-based learning model more broadly.