Strategi Pengembangan Homestay Berbasis Kearifan Lokal untuk Mendukung Pariwisata Berkelanjutan di Kabupaten Lombok Tengah

Homestay Kearifan Lokal Pariwisata Berkelanjutan SWOT Community Based Tourism

Authors

Downloads

How to Cite

Mariani, I., Mahyuni, M., & Saufi , A. . (2026). Strategi Pengembangan Homestay Berbasis Kearifan Lokal untuk Mendukung Pariwisata Berkelanjutan di Kabupaten Lombok Tengah. Empiricism Journal, 7(2), 2055-2063. https://doi.org/10.36312/ej.v7i2.6019

Pengembangan homestay berbasis kearifan lokal menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung pariwisata berkelanjutan karena mampu mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial budaya, lingkungan, dan tata kelola masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi eksisting homestay berbasis kearifan lokal, menganalisis persamaan dan perbedaan penerapan kearifan lokal pada tiga desa wisata, serta merumuskan strategi pengembangannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi komparatif di Desa Gonjak, Desa Bujak Permai, dan Desa Setanggor, Kabupaten Lombok Tengah. Informan dipilih menggunakan purposive sampling yang melibatkan pemerintah desa, pengelola homestay, tokoh adat, pelaku UMKM, pekerja homestay, dan wisatawan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi menggunakan pedoman wawancara dan lembar observasi yang telah divalidasi melalui expert judgment serta diuji kredibilitasnya melalui triangulasi sumber dan teknik. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik yang dipadukan dengan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga desa telah menerapkan unsur kearifan lokal Sasak melalui arsitektur tradisional, kuliner khas, tradisi budaya, dan interaksi masyarakat dengan wisatawan. Penelitian ini menemukan tiga tipologi homestay, yaitu Social-Cultural Homestay di Desa Gonjak, Agro-Permaculture Homestay di Desa Bujak Permai, dan Cultural Performance Homestay di Desa Setanggor. Desa Gonjak menonjolkan nuansa pedesaan, Desa Bujak Permai mengintegrasikan budaya dan aktivitas masyarakat, sedangkan Desa Setanggor memiliki tata kelola homestay yang lebih berkembang. Strategi pengembangan yang direkomendasikan meliputi penguatan identitas budaya Sasak, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengelolaan lingkungan berkelanjutan, serta optimalisasi promosi digital dan jejaring pariwisata.

Kata kunci: Homestay; Kearifan Lokal; Pariwisata Berkelanjutan; SWOT; Community Based Tourism

 

Local Wisdom-Based Homestay Development Strategy to Support Sustainable Tourism in Central Lombok Regency

Abstract

Local wisdom-based homestay development has become an important strategy for supporting sustainable tourism by integrating economic, socio-cultural, environmental, and governance aspects. This study aimed to identify the existing conditions of local wisdom-based homestays, analyze similarities and differences in their implementation across three tourism villages, and formulate appropriate development strategies. A qualitative comparative study was conducted in Gonjak Village, Bujak Permai Village, and Setanggor Village, Central Lombok Regency. Participants were selected using purposive sampling, including village officials, homestay managers, traditional leaders, MSME actors, employees, and tourists. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation using expert-validated research instruments. Data credibility was ensured through source and technique triangulation. The data were analyzed using thematic analysis combined with SWOT analysis. The findings indicate that all three villages have incorporated Sasak local wisdom through traditional architecture, local cuisine, cultural traditions, and community-tourist interactions. This study identified three homestay typologies: the Social-Cultural Homestay in Gonjak Village, the Agro-Permaculture Homestay in Bujak Permai Village, and the Cultural Performance Homestay in Setanggor Village. Gonjak Village emphasizes rural tourism experiences, Bujak Permai integrates agricultural and cultural activities, while Setanggor demonstrates relatively stronger institutional management. Recommended development strategies include strengthening Sasak cultural identity, improving human resource capacity, empowering local communities, implementing sustainable environmental management, and enhancing digital marketing and tourism networking. These strategies are expected to strengthen sustainable tourism development in Central Lombok Regency