Tradisi Bekelewang dalam Membentuk Civic Culture pada Masyarakat Desa Kemuning Kecamatan Sekongkang

Tradisi Bekelewang Civic culture Kearifan Lokal Gotong Royong Masyarakat Desa Kemuning

Authors

Downloads

How to Cite

Bella, E. S. S. ., Alqadri, B. ., & Edi , M. G. P. . (2026). Tradisi Bekelewang dalam Membentuk Civic Culture pada Masyarakat Desa Kemuning Kecamatan Sekongkang. Empiricism Journal, 7(3), 2664-2674. https://doi.org/10.36312/ej.v7i3.6565

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan Tradisi Bekelewang, mengidentifikasi nilai-nilai Civic Culture yang terkandung di dalamnya, serta menganalisis peran Tradisi Bekelewang dalam membentuk Civic Culture pada masyarakat Desa Kemuning, Kecamatan Sekongkang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian etnografi. Informan penelitian terdiri atas 6 orang yang dipilih secara purposive, meliputi 2 tokoh adat, 2 tokoh masyarakat, dan 2 pemuda yang memahami dan terlibat langsung dalam Tradisi Bekelewang. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi teknik, sumber, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Tradisi Bekelewang dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu tahap persiapan (Besemula, Urun Rembuk, Berajak dan Rebaya, pembentukan panitia, serta Antat Panulung), tahap pelaksanaan (Masak Berema, Mangan Berema, dan doa bersama), dan tahap penutupan (pembersihan lokasi dan penyelesaian kegiatan) yang melibatkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Nilai-nilai Civic Culture yang terkandung dalam tradisi ini meliputi kepercayaan sosial (social trust), tanggung jawab sosial (social responsibility), dan kerja sama (cooperation). Tradisi Bekelewang berperan dalam membentuk Civic Culture melalui musyawarah, gotong royong, pembagian peran, kepatuhan terhadap kesepakatan bersama, serta koordinasi antarmasyarakat yang mampu memperkuat kohesi sosial, rasa kebersamaan, dan partisipasi warga dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, Tradisi Bekelewang tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya lokal, tetapi juga menjadi media pembentukan karakter kewarganegaraan yang mendukung terwujudnya masyarakat yang partisipatif, bertanggung jawab, dan memiliki solidaritas sosial yang tinggi.

 

 

The Bekelewang Tradition in Shaping Civic Culture among the Community of Kemuning Village, Sekongkang District

Abstract

This study aims to describe the implementation of the Bekelewang Tradition, identify the Civic Culture values embedded within it, and analyze its role in shaping Civic Culture among the people of Kemuning Village, Sekongkang District. This research employed a qualitative approach using an ethnographic research design. The research participants consisted of 6 informants selected purposively, including 2 traditional leaders, 2 community leaders, and 2 youth who understand and are directly involved in the Bekelewang Tradition. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing, while the validity of the data was ensured through technique, source, and time triangulation. The findings reveal that the Bekelewang Tradition is implemented through three stages: preparation (Besemula, Urun Rembuk, Berajak and Rebaya, committee formation, and Antat Panulung), implementation (Masak Berema, Mangan Berema, and communal prayer), and closing (site cleaning and activity completion), all of which involve active participation from the entire community. The Civic Culture values reflected in this tradition include social trust, social responsibility, and cooperation. The Bekelewang Tradition contributes to the development of Civic Culture through deliberation, mutual cooperation, role distribution, adherence to collective agreements, and community coordination. These practices strengthen social cohesion, solidarity, and citizens' participation in community life. Therefore, the Bekelewang Tradition functions not only as a form of local cultural heritage but also as a medium for fostering civic character and promoting participatory, responsible, and socially cohesive citizens.