Pendampingan UMK Kelompok Pengerajin Sokasi di Desa Sulahan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli

Authors

  • A. A. Sri Purnami Universitas Warmadewa
  • I Ketut Selamet Universitas Warmadewa
  • L.G.P Sri Eka Jayanti Universitas Warmadewa

DOI:

https://doi.org/10.36312/linov.v10i3.3334

Keywords:

UMK, Kerajinan Anyaman Bambu, Sokasi, Digital Marketing, Pemberdayaan Ekonomi

Abstract

Abstrak: Sokasi adalah salah satu kerajinan tangan masyarakat Bali yang terbuat dari bambu yang dianyam dengan teknik tertentu sehingga menghasilkan bentuk dan corak khas, lengkap dengan hiasan dan aksesori. Di Bali, sokasi sering digunakan sebagai prasarana untuk persembahyangan, khususnya sebagai wadah banten atau sesajen upacara. Salah satu sentra pengrajin bambu berada di Desa Sulahan, Kabupaten Bangli, dengan jumlah penduduk 2.853 orang (1.455 laki-laki dan 1.398 perempuan). Mayoritas mata pencaharian penduduk adalah pertanian, dengan kerajinan anyaman bambu, khususnya sokasi, sebagai usaha utama. Produk-produk yang dihasilkan memiliki keunikan baik dari segi desain, kualitas bahan baku, maupun teknik pembuatan yang masih mempertahankan cara-cara tradisional. Kelompok pengrajin sokasi Keben Asri adalah salah satu kelompok pengrajin bambu yang ada di desa Sulahan. Jumlah anggota kelompoknya adalah sebanyak 15 orang, yang Sebagian besar adalah ibu-ibu rumah tangga.Mereka biasanya mengerjakan kerajinan setelah selesai melakukan kegiatan rumah tangga dan sebagian besar mereka hanya tamatan SMP. Masalah utama yang dihadapi para pengrajin meliputi keterbatasan pemasaran, manajemen usaha yang masih sederhana, minimnya literasi digital, serta kesulitan mengakses permodalan untuk pengembangan usaha. Kegiatan pengabdian masyarakat ini memiliki tujuan spesifik untuk meningkatkan kapasitas pemasaran digital, memperkuat manajemen keuangan, dan memperluas akses pengrajin terhadap sumber-sumber pembiayaan formal. Untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi oleh kelompok pengrajin di Desa Sulahan, kegiatan pengabdian masyarakat dirancang dengan metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif berbasis pendampingan intensif, melibatkan 15 orang pengrajin yang merupakan anggota kelompok pengrajin sokasi Keben Asri, dengan durasi kegiatan selama tiga bulan. Pendekatan ini meliputi pelatihan pemasaran digital, manajemen keuangan, serta pendampingan penyusunan proposal kredit ke lembaga keuangan. Hasil dari kegiatan PKM menunjukkan bahwa pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh tim pengabdian efektif dalam meningkatkan keterampilan teknis manajemen usaha dan pemasaran digital anggota kelompok pengrajin sokasi. Hal ini bisa dilihat dari hasil skor pada masing-masing bidang mengalami peningkatan setelah dilakukan pendampingan, seperti pada bidang manajemen usaha, sebelum dilakukan pendampingan nilai skor nya diperoleh sebesar 1,06 dan setelah dilakukan pendampingan nilai skornya naik menjadi 3,13. Sedangkan pada bidang pemasaran digital, sebelum dilakukan pendampingan nilai skornya sebesar 1,1 dan setelah dilakukan pendampingan nilai skornya naik menjadi 3,06. Implikasi dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan berbasis teknologi dan literasi keuangan dapat meningkatkan daya saing UMK berbasis kerajinan tradisional di Bali. Program ini berpotensi direplikasi di sentra-sentra kerajinan lain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Empowerment Program for MSMEs: Sokasi Craftsmen Group in Sulahan Village, Susut District, Bangli Regency

Abstract

Sokasi is one of Bali’s traditional handicrafts made from woven bamboo using specific techniques to produce distinctive shapes and patterns, often adorned with decorations and accessories. In Bali, sokasi is commonly used as a ceremonial item, particularly as a container for banten or offerings in religious ceremonies. One of the centers of bamboo artisans is located in Sulahan Village, Bangli Regency, which has a population of 2,853 people (1,455 men and 1,398 women). The majority of the residents work in agriculture, with bamboo weaving, particularly sokasi production, serving as their primary business. The products stand out for their unique designs, quality raw materials, and traditional manufacturing techniques that are still preserved today. The Keben Asri sokasi artisan group is one of the bamboo crafting groups in Sulahan Village. This group consists of 15 members, most of whom are housewives who typically work on their crafts after completing their household chores, and most of them have only completed junior high school. The main challenges faced by these artisans include limited marketing reach, basic business management skills, low digital literacy, and difficulties in accessing financial capital for business development. This community service program specifically aims to enhance digital marketing capacity, strengthen financial management, and expand artisans’ access to formal financing sources. To address these challenges, the program was designed using a participatory approach with intensive mentoring, involving 15 artisans from the Keben Asri group over a three-month period. The approach included training in digital marketing, financial management, and assistance in preparing loan proposals for financial institutions. The results of the program show that the training and mentoring activities provided by the community service team were effective in improving the artisans’ technical skills in business management and digital marketing. This is evident from the increased scores in each area after the mentoring process. In business management, the score improved from 1.06 before the program to 3.13 afterward. Similarly, in digital marketing, the score increased from 1.1 to 3.06 after the intervention. These findings imply that technology-based empowerment combined with financial literacy can enhance the competitiveness of traditional craft-based MSMEs in Bali. This program holds potential for replication in other craft centers to stimulate the growth of creative economies rooted in local wisdom.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Arsyad, Lincolin. 2010. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Farhaeni, M. (2023). Diversifikasi Buah Bligo (Benincasa Hispida) Pada Masyarakat Di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Badung. Jurnal Abdi Insani. https://doi.org/10.29303/abdiinsani.v10i3.1082

Handayani, Rum, Jamal Wiwoho, Rahmawati , Kuncoro Diharjo, Francisca Sestri Goestjahjanti, Siti Nurlaela, dan Rizky Windar Amelia. 2021. Peningkatan Kreatifitas Kerajinan Bambu di Desa Jambukulon Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. 2, No. 3.

Setiawan, Budi. 2010. “Strategi Pengembangan Usaha Kerajinan Bambu di Wilayah Kampung Pajeleran Sukahati Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor”. Jurnal Manajemen dan Organisasi. Vol 1, No. 2.

Shinta, A. 2011, Manajemen Pemasaran, Malang, UB Press.

Suharto, Edi. 2006. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Bandung: Refika Aditama

Taru, Nikodemus Samuel, and Nanik Dara Senjawati. 2017. “Analisis Usaha Kerajinan Bambu Skala Rumah Tangga Di Kelurahan Malumbi Kecamatan Kambera Kabupaten Sumba Timur.” Jurnal Ilmu Pertanian 29:55–68.

Widyaningrum, M. (2024). Pelatihan Pengolahan Minyak VCO Bagi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat. Madaniya. https://doi.org/10.53696/27214834.790

Wrihatnolo & Dwidjowijoto. 2007. Manajemen Pemberdayaan: Sebuah Pengantar dan Panduan Untuk Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Pt. Elex Media Komputindo

Downloads

Published

2025-09-01

Issue

Section

Articles

How to Cite

Purnami, A. A. S., Selamet, I. K., & Jayanti, L. S. E. (2025). Pendampingan UMK Kelompok Pengerajin Sokasi di Desa Sulahan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli. Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 10(3), 734-741. https://doi.org/10.36312/linov.v10i3.3334