Hubungan Antar Pengelolaan Lahan dan Tingkat Keanekaragaman Hayati Nusa Tenggara Barat

Authors

  • Nur Syafitri Universitas Mataram
  • Lolita Endang Susilowati Universitas Mataram
  • Mulyati Mulyati Universitas Mataram
  • Suwardji Suwardji Universitas Mataram

DOI:

https://doi.org/10.36312/s1zvb063

Keywords:

Lahan Kering, Keanekaragaman Hayati, Degradasi Lahan, Pengelolaan Berkelanjutan

Abstract

Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki 70-80% wilayah berupa lahan kering dengan curah hujan tahunan 1.000-1.500 mm dan musim kemarau panjang (6-8 bulan). Kondisi ini menciptakan ekosistem lahan kering yang unik dengan keanekaragaman hayati tinggi namun rentan terhadap degradasi lahan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keragaman flora dan fauna di wilayah lahan kering NTB serta mengkaji tantangan dan strategi pengelolaan lahan berkelanjutan. Metode penelitian ini adalah studi survei tinjauan jurnal sistematis atau literature review yang bersifat deskriptif-analitik dengan fokus pada keanekaragaman hayati lahan kering dan pengelolaan lahan berkelanjutan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hasil penelitian mengungkapkan 87 spesies flora dari 45 famili, didominasi spesies tahan kekeringan seperti lontar (Borassus flabellifer), gebang (Corypha utan), asam jawa (Tamarindus indica), dan berbagai legum penutup tanah. Keragaman fauna mencakup mamalia (rusa timor, monyet ekor panjang), burung, reptil, hingga serangga penyerbuk dan pengurai. Kemarau panjang menyebabkan krisis air bersih, gagal panen, peningkatan serangan hama, kebakaran lahan, dan ancaman kesehatan masyarakat. Degradasi lahan >400.000 ha (2020) diperparah oleh praktik pertanian tidak berkelanjutan dan perubahan iklim. Pengelolaan lahan berkelanjutan memerlukan integrasi konservasi tanah-air, diversifikasi tanaman tahan kekeringan, agroforestri, pemberdayaan varietas lokal, dan penguatan kawasan konservasi laut dan darat. Keanekaragaman hayati lahan kering NTB merupakan aset strategis untuk ketahanan pangan, pendapatan masyarakat, dan identitas budaya yang harus dilindungi melalui pendekatan ekologis, ekonomis, dan sosial-budaya terintegrasi.

The Relationship Between Land Management and Biodiversity Levels in West Nusa Tenggara

Abstract

West Nusa Tenggara (NTB) covers 70-80% of its territory, consisting of drylands, with annual rainfall of 1,000-1,500 mm and a long dry season (6-8 months). These conditions create a unique dryland ecosystem with high biodiversity but are vulnerable to land degradation. This research aims to identify the diversity of flora and fauna in the dryland areas of NTB and to examine the challenges and strategies for sustainable land management. This research method is a systematic journal review survey study or literature review which is descriptive-analytical in nature with a focus on dryland biodiversity and sustainable land management in West Nusa Tenggara Province. The study revealed 87 floral species from 45 families, dominated by drought-tolerant species such as the lontar palm (Borassus flabellifer), gebang (Corypha utan), tamarind (Tamarindus indica), and various groundcover legumes. Fauna diversity includes mammals (Timor deer, long-tailed macaques), birds, reptiles, and even pollinating and decomposing insects. Fauna diversity includes mammals (Timor deer, long-tailed macaques), birds, reptiles, and even pollinating and decomposing insects. Prolonged droughts have led to clean water shortages, crop failures, increased pest infestations, land fires, and public health threats. Land degradation of >400,000 ha (2020) is exacerbated by unsustainable agricultural practices and climate change. Sustainable land management requires the integration of soil-water conservation, drought-resistant crop diversification, agroforestry, the empowerment of local varieties, and the strengthening of marine and terrestrial conservation areas. The biodiversity of NTB's drylands is a strategic asset for food security, community income, and cultural identity that must be protected through an integrated ecological, economic, and socio-cultural approach.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Agus, F., Gintings, A. N., van Noordwijk, M., Hairiah, K., & Pasya, G. (2004). Pilihan teknologi agroforestri/konservasi tanah untuk areal pertanian berbasis lahan kering di Indonesia. World Agroforestry Centre (ICRAF).

Aldrian, E., & Susanto, R. D. (2003). Identification of three dominant rainfall regions within Indonesia and their relationship to sea surface temperature. International Journal of Climatology, 23(12), 1435-1452.

Andrian, A., Sari, R. R., & Kusuma, Z. (2022). Sistem agroforestri sebagai strategi adaptasi perubahan iklim dan konservasi keanekaragaman hayati. Jurnal Ilmu Lingkungan, 20(2), 245-256.

BMKG. (2023). Analisis iklim dan cuaca Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2023. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

BPS. (2006). Proyeksi penduduk Indonesia 2005-2025. Badan Pusat Statistik Indonesia.

BPS Provinsi NTB. (2024). Nusa Tenggara Barat dalam angka 2024. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Council on Foreign Relations. (2024). Climate change and biodiversity loss: How are they connected? Retrieved from https://www.cfr.org

Deng, L., Peng, C., Huang, C., Wang, K., Liu, Q., Liu, Y., ... & Zhou, C. (2024). Drought effects on soil carbon and nitrogen dynamics in global natural ecosystems. Earth-Science Reviews, 214, 103501.

Dirjen Perkebunan. (2001). Statistik perkebunan Indonesia 2000-2001. Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian.

DLKH & Dinas Kehutanan Provinsi NTB. (2016). Profil keanekaragaman hayati Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dinas Lingkungan dan Kehutanan Provinsi NTB.

Eryani, D. P., Witono, J. R., & Setiawan, B. (2020). Penguatan kelembagaan kelompok tani dalam pengelolaan lahan berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat. Jurnal Penyuluhan Pertanian, 15(1), 78-89.

Fahrezy, A., Wijaya, K., & Susanto, H. (2025). Diversifikasi ekonomi petani lahan kering melalui integrasi tanaman-ternak di NTB. Jurnal Agribisnis Peternakan, 18(1), 34-45.

Harefa, S., Sihombing, R., & Tarigan, M. (2024). Aplikasi zeolit sebagai pembenah tanah pada lahan kering: Tinjauan sistematis. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, 26(1), 12-23.

Idjudin, A. A. (2011). Peranan konservasi lahan dalam pengelolaan perkebunan. Jurnal Sumberdaya Lahan, 5(2), 103-116.

Irawan, B., Ariningsih, E., Purwoto, A., Rachman, B., Supriyati, Winarso, B., ... & Hermanto. (2001). Analisis sistem usahatani berbasis padi dan kebijakan perguliran gabah. Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.

Joleha, Budiman, & Setiawan, I. (2024). Implementasi teknologi konservasi air untuk pertanian lahan kering di Nusa Tenggara Barat. Jurnal Teknik Pertanian Tropika, 12(1), 45-58.

Kurniasih, D. (2018). Pentingnya keanekaragaman hayati bagi kehidupan manusia. Jurnal Biologi dan Pembelajaran Biologi, 3(2), 56-67.

Mellawati, J., & Suhartini, S. (2018). Keanekaragaman fauna di Nusa Tenggara: Adaptasi dan konservasi. Jurnal Biologi Tropis, 18(1), 89-102.

Muttaqin, Z., Dewi, S., & van Noordwijk, M. (2019). Agroforestri untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia. World Agroforestry (ICRAF) Southeast Asia Regional Office, Bogor.

Newbold, T., Hudson, L. N., Arnell, A. P., Contu, S., De Palma, A., Ferrier, S., ... & Purvis, A. (2019). Has land use pushed terrestrial biodiversity beyond the planetary boundary? A global assessment. Science, 353(6296), 288-291.

Ningsih, S. R., Maryani, E., & Nandi. (2021). Analisis risiko bencana longsor di wilayah topografi berbukit Nusa Tenggara Barat. Jurnal Geografi Gea, 21(2), 134-145.

Nurrohman, M., Supriyadi, & Kasno, A. (2018). Peningkatan produktivitas lahan pertanian melalui aplikasi bahan organik. Jurnal Tanah dan Iklim, 42(1), 67-78.

Ramadhan, F., Suwardji, & Kusnarta, I. G. M. (2023). Pola tanam tumpang sari untuk optimalisasi lahan kering di Lombok. Jurnal Pertanian Lahan Kering, 8(2), 112-125.

Rohman, F., Putri, A. D., & Santoso, B. (2021). Dampak aktivitas antropogenik terhadap penurunan biodiversitas di Indonesia. Jurnal Konservasi Hayati, 17(3), 201-213.

Setiawan, A. (2022). Strategi konservasi keanekaragaman hayati di era perubahan iklim. Jurnal Ilmu Kehutanan, 16(2), 156-168.

Sulistiana, N. (2017). Peran hutan dalam mitigasi perubahan iklim dan penyerapan karbon. Jurnal Silvikultur Tropika, 8(3), 178-189.

Sumardi, Widianto, & Hairiah, K. (2024). Tanaman adaptif untuk lahan kering: Evaluasi dan rekomendasi. Jurnal Agronomi Indonesia, 52(1), 23-35.

Susilawati, E. (2021). Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan manusia dan keanekaragaman hayati. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 13(4), 234-247.

Suyadi. (2024). Model implementasi bertahap konservasi lahan di wilayah lahan kering. Jurnal Pembangunan Berkelanjutan, 9(1), 67-81.

Tribowo, M., Suwardji, & Purnawan, I. G. A. (2014). Efisiensi penggunaan air pada sistem irigasi tetes untuk hortikultura di lahan kering. Jurnal Teknik Irigasi, 5(2), 89-101.

Tyasmoro, S. Y., Aini, N., & Suryanto, A. (2023). Aplikasi pupuk organik untuk peningkatan kesuburan tanah lahan kering. Jurnal Produksi Tanaman, 11(3), 234-245.

United Nations. (2022). What is climate change? United Nations Climate Action. Retrieved from https://www.un.org/en/climatechange/what-is-climate-change

Yamakaula, S. (2024). Adaptasi pertanian berkelanjutan menghadapi perubahan iklim di kawasan lahan kering. Jurnal Pertanian Berkelanjutan, 10(2), 145-159.

Downloads

Published

2025-12-31

Issue

Section

Articles

How to Cite

Syafitri, N., Susilowati, L. E., Mulyati, M., & Suwardji, S. (2025). Hubungan Antar Pengelolaan Lahan dan Tingkat Keanekaragaman Hayati Nusa Tenggara Barat. Empiricism Journal, 6(4), 2678-2690. https://doi.org/10.36312/s1zvb063