Pola Pendidikan Islam Dalam Tradisi Merarik Suku Sasak Lombok Di Kabupaten Lombok Tengah

Merarik Pola Pendidikan Islam Suku Sasak Kearifan Lokal Adat dan Syariat

Authors

Downloads

How to Cite

Hirlan, H., & Mukminah , M. (2025). Pola Pendidikan Islam Dalam Tradisi Merarik Suku Sasak Lombok Di Kabupaten Lombok Tengah. Reflection Journal, 5(1), 572-587. https://doi.org/10.36312/rj.v5i1.3132

Tradisi Merarik (kawin lari) pada masyarakat Suku Sasak di Kabupaten Lombok Tengah sering disalahpahami sebagai tindakan impulsif yang menafikan peran orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar persepsi tersebut dan menganalisis secara mendalam bagaimana tradisi Merarik berfungsi sebagai sebuah pola pendidikan Islam yang terstruktur dan efektif. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus etnografis, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat, tokoh agama, pelaku Merarik, dan orang tua, serta observasi partisipatif dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Merarik bukanlah sekadar ritual, melainkan sebuah "kurikulum kehidupan" informal yang menginternalisasikan nilai-nilai fundamental Islam. Setiap tahapannya mulai dari melaiq (membawa lari), besejati (musyawarah), hingga nyongkolan (resepsi arak-arakan) berfungsi sebagai modul pendidikan. Bagi calon mempelai, tradisi ini menanamkan nilai tanggung jawab (mas'uliyyah), menjaga kehormatan (iffah), dan musyawarah (syura). Bagi orang tua, ia menjadi sekolah spiritual yang mengajarkan kesabaran (sabar), keikhlasan (ikhlas), dan pemaafan (forgiveness). Penelitian ini menyimpulkan bahwa Merarik adalah wujud nyata dari dialektika harmonis antara adat dan syariat, di mana kearifan lokal berfungsi sebagai wahana efektif untuk pendidikan karakter Islam, membentuk individu dan masyarakat yang bermartabat.

 Islamic Education Patterns in the Merarik Tradition of the Sasak Tribe in Central Lombok Regency

 The tradition of Merarik (elopement) in the Sasak community in Central Lombok Regency is often misunderstood as an impulsive act that denies the role of parents. This study aims to dismantle this perception and analyze in depth how the Merarik tradition functions as a structured and effective Islamic education pattern. Using a qualitative approach with an ethnographic case study method, this study collected data through in-depth interviews with traditional leaders, religious leaders, Merarik actors, and parents, as well as participatory observation and documentation studies. The results of the study show that Merarik is not just a ritual, but an informal "life curriculum" that internalizes fundamental Islamic values. Each stage from melaiq (carrying away), besejati (deliberation), to nyongkolan (reception procession) functions as an educational module. For prospective brides and grooms, this tradition instills the values ??of responsibility (mas'uliyyah), maintaining honor (iffah), and deliberation (shura). For parents, it becomes a spiritual school that teaches patience (sabar), sincerity (ikhlas), and forgiveness (forgiveness). This study concludes that Merarik is a real manifestation of the harmonious dialectic between custom and sharia, where local wisdom functions as an effective vehicle for Islamic character education, forming dignified individuals and communities.